Metode dalam psikologi pendidikan
1.observasi
metode yang dilakukan dengan jalan
mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku anak didik dalam situasi yang
wajar, dilaksanakan dengan berencana, kontinu dan sistematik, serta diikuti
dengan upaya mencatat atau merekam secara lengkap.
2. metode klinis
digunakan untuk mengumpulkan data secara
lebih rinci mengenai perilaku penyesuaian dan kasus-kasus perilaku penyimpangan
3. metode diferensial
digunakan untuk meneliti
perbedaan-perbedaan individual yang terdapat diantara anak didik.
4. metode ilmiah
prosedur yang sistematik dalam
memecahkan permasalahan.
5. metode eksperimen
dalam pendidikan, pada situasi itu
ditempatkan subjek penelitian tertentu. selanjutnya, subjek diberikan
perangsang-perangsang untuk mendapatkan reaksi atau respon tertentu. kemudian,
respon itu dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan tertentu. lazimnya,
digunakan dua kelompok subjek, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Perbedaan individu
dalam tingkat kecerdasan
1. Kemampuan (Intelijensi)
Uji perbedaan individu
memungkinkan perhatian publik pada pengukuran kemampuan seseorang yang tentunya
menghasilkan skor nilai IQ. Pada tahun 1920-an, pengujian ini sangat berguna
sekali dilakukan. Banyak pendukung gerakan ini di Amerika yang kemudian dirasa
bahwa seseorang yang memiliki IQ sedang hingga tinggi yang hanya dibolehkan
untuk lebih produktif dibanding mereka yang memiliki keterbelakangan mental dan
kelompok keterbelakangan mental ini biasanya dihindari.
2. Cognitive Styles
Teori yang berhubungan erat
kepada permasalahan dalam keserasian untuk belajar adalah tipe kognitif. Keserasian perorangan
mungkin dipandang sebagai suatu tingkatan dari capaian intelektual, sedangkan
tipe kognitif mengacu pada cara capaian atau bagaimana sesuatu menyelesaikan
tugas-tugas intelektual. Sebagai contoh, individu berbeda pilihan atau
kemampuan untuk belajar dari suatu cara yang dilakukan berhubungan dengan
perasaan spesifik. Sebagian orang merasa paling baik belajar dari material
tertulis, sedang sebagian orang yang lain merasa lebih efisien belajar dari
pengolahan indera pendengar dengan isi yang sama melalui ceramah / kuliah atau
siaran ulang tv dari video.
Perbedaan individu sepanjang
dimensi ini ditaksir oleh suatu persepsi tugas yang mempertemukan test figur
umum yang harus memilih enam pekerjaan yang sangat serupa yang mana persisnya
seperti suatu figur target. Hanya satu menit dalam mencari jawaban yang benar
dan salah. Ukuran waktu tanggapan untuk masing-masing individu diambil seperti
halnya score ketelitian. Orang yang lebih lambat dibanding rata-rata dan siapa
yang membuat lebih sedikit kesalahan dibanding rata-rata Walaupun penggolongan
ini meliputi kebanyakan pengambil test, tetapi tidak meliputi semua. Beberapa
individu membuat banyak kesalahan sungguhpun mereka pelan-pelan, sedang
individu lain bisa bekerja dengan cukup cepat tanpa membuat banyak kesalahan.
3. Gaya Belajar
Strategi Belajar sebagai tambahan
terhadap perbedaan di dalam karakteristik global yang mempengaruhi pelajaran,
suatu faktor penentu penting dari suatu capaian individu pada tugas yang
diberikan adalah strategi spesifik yang diambil untuk tugas itu. Strategi
berbeda telah secara ekstensif menyelidiki dalam berbagai pelajaran dan memori
tugas
4. Memory Ability
Perbedaan kesanggupan ingatan
individu tidak hanya di dalam kemampuan mereka untuk memperoleh informasi,
tetapi juga di dalam kemampuan mereka untuk mempertahankan informasi apapun
yang mereka peroleh. Beberapa tahun terakhir, psikolog berbeda mengukur kecerdasan.
Beberapa yang paling menarik untuk pekerjaan ini telah dilaksanakan oleh suatu
regu peneliti dipimpin oleh Earl Hunt, seorang psikolog dan Clifford Lunneborg
seorang psychometrician. Pendekatan dasar yang diambil oleh Earl Hunt dan
Lunneborg telah menguji para siswa perguruan tinggi berbagai tugas memori. Para
mahasiswa terpilih untuk masuk di dalam studi pada dasar score ekstrim mereka
pada tes kecerdasan. Mereka membatasi para mahasiswa peringkat puncak yang
keempat atau keempat terakhir di kelas mereka di dalam gabungan kedua-duanya
yang lisan dan gabungan yang kwantitatif pada suatu pengujian pintu masuk. Penelitian Earl Hunt dan Lunneborg's mengungkapkan dua
penemuan basis dasar,: satu mengenai implikasi perbedaan di dalam kemampuan
lisan dan lain mengenai implikasi variasi yang berbeda di dalam kemampuan
kwantitatif. Pada dasarnya, pembedaan sepertinya di dalam fungsi jenis memori
pada kemampuan yang berhubungan
Gangguan psikologi
dalam belajar
A. Faktor Internal
Factor internal adalah
factor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi
hasil belajar individu. Factor-faktor internal ini meliputi factor fisiologis
dan factor psikologis
1. Factor fisiologis
Factor-faktor
fisiologis adalah factor-factor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu.
Factor-factor ini dibedakan menjadi dua macam.
Pertama, keadaan
fisik/jasmani. Keadaan fisik/jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas
belajar seseorang . kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh
positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang
lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal.
2. Factor psikologis
Factor –faktor
psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses
belajar. Beberapa factor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar
adalah motifasi, minat, sikap dan bakat.
a) Motivasi
a) Motivasi
Motivasi adalah salah
satu factor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah
yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi
mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif,
mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat.
b) Minat
Secara sederhana,
minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu. Dalam konteks belajar di kelas, seorang
guru atau pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik
terhadap materi pelajaran yang akan dihadapinya atau dipelajarinya.
c) Sikap
Dalam proses belajar,
sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya.
Sikap adalah gejala
internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau
merespons dengan cara yang relative tetap terhadap obyek, orang, peristiwa dan
sebagainya, baik secara positif maupun negative.
Sikap siswa dalam
belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan
guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya
sikap yang negative dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru
yang professional dan bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya.
d) Bakat
d) Bakat
Faktor psikologis lain
yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan
sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan
pada masa yang akan datang. Berkaitan dengan belajar, Slavin mendefinisikan
bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk belajar. Dengan
demikian, bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah satu komponen yang
diperlukan dalam proses belajar seseorang.
B. Factor
eksogen/eksternal
Selain karakteristik
siswa atau factor-faktor endogen, factor-faktor eksternal juga dapat
mempengaruhi proses belajar siswa. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi
belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu factor lingkungan social
dan factor lingkungan non sosial.
1) Lingkungan social
Lingkungan social
sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi
proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antara ketiganya dapat menjadi
motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah. Perilaku yang simpatik
dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi dapat menjadi pendorong
bagi siswa untuk belajar.
·
Faktor Keluarga, Faktor keluarga turut mempengaruhi perkembangan
prestasi belajar siswa. Pendidikan yang pertama dan utama yang diperoleh ada
dalam keluarga. Jadi keluarga merupakan salah satu sumber bagi anak untuk
belajar. Kalau pelajaran yang diperoleh anak dari rumah tidak baik, kemungkinan
diluar lingkungan keluarga anak menjadi nakal dan begitu juga sebaliknya.
·
Faktor Sekolah, Faktor ini menyangkut proses pembelajaran yang
diterima seseorang dengan bantuan guru. Metode pembelajaran yang diberikan
sekolah sangat menentukan bagaimana anak dapat belajar mandiri dengan baik.
Guru yang baik adalah guru yang menguasai kelas memiliki kemampuan dan
menggunakan metode Pembelajaran yang tepat, yaitu kemampuan membelajarkan
dan kemampuan memilih alat bantu pemelajaran yang sesuai serta kemampuan
menciptakan situasi dan kondisi belajar.
·
Faktor Masyarakat , Masyarakat merupakan lingkungan pendidikan ketiga
sesudah keluarga dan sekolah, yang mempengaruhi anak dalam mencapai prestasi
belajar yang baik. Anak haruslah dapat berinteraksi dengan masyarakat
sekitarnya, karena dari pengalaman yang dialami siswa dimasyarat banyak
diperoleh ilmu yang berguna bagi anak didik.
2) Lingkungan non
social.
Faktor-faktor yang
termasuk lingkungan nonsosial adalah : Pertama Lingkungan alamiah, seperti
kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu
silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang.
Lingkungan alamiah tersebut merupakan factor-faktor yang dapat mempengaruhi
aktivitas belajar siswa. Kedua Factor instrumental, yaitu perangkat belajar
yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah,
alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olah raga dan lain sebagainya.
Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku
panduan, silabi dan lain sebagainya.
Teori-teori belajar
Teori behavioristik adalah
sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah
laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran
psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan
teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang
dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya
perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan
model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai
individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan
atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan
penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2. Teori
Belajar kognitivisme
Teori belajar
kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes
terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif
ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan
pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan
hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model
ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti
yang mengembangkan teori
kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan
Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda.
Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh
utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan
bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh
informasi dari lingkungan.
3. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi
berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan
Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya
modern.
Konstruktivisme
merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh
manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Pengetahuan
bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil
dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna
melalui pengalaman nyata.
Dengan
teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah,
mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka
terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih
pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa
terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua
konsep.
Perestasi belajar
Poerwadarminta (1987:322) menyatakan bahwa prestasi
adalah hasil yang telah dicapai. Pernyataan ini diperjelas oleh Arijo (1994:22)
yang menyatakan bahwa prestasi adalah hasil usaha yang dicapai seseorang
melalui perbuatan belajar yang memperoleh hasil dalam bentuk tingkah laku nyata
dan baru.
Hasan (1994:84) belajar adalah suatu aktivitas
mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai
sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Hal ini bermakna
bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku akibat adanya interaksi antara
individu pada lingkungannya sehingga memperoleh pengalaman.
Kesulitan Belajar
Definisi kesulitan belajar, adalah dimana seseorang sulit memahami,
mengerti, dan mengingat suatu hal baru yang sedang ia pelajari dalam proses
belajar walaupun sudah diulang beberapa kali.
Kesulitan dalam belajar dapat disebabkan oleh faktor internal
dan juga faktor eksternal. Faktor Internal antara lain:
1. Kondisi tubuh sedang tidak sehat
atau tidak fi
2. Kondisi PSikis sedang tidak Fit
3. Sedang Stress
4. Lagi Banyak pikiran
5. IQ yang agak renah
6. Kurang Berminat dengan pelajarannya
7.
Kurang berbakat di bidang tersebut
Faktor Eksternal antara lain:
1. Lingkungan yang berisik
2. Tuntutan yang sangat Tinggi dari
Keluarga (orang tua), Ada di keluarga yang kurang kasih sayang, misalnya broken
Home, dll
3. Lingkungan sekolah yang sering
tawuran
4. Guru yang kurang perhatian akan
perkembangan muridnya.
Cara
Mengatasi Kesulitan Belajar yaitu :
1. Salah satu upaya untuk mengatasi kesulitan belajar adalah dengan meningkatkan motivasi belajar.
2. Memiliki tujuan belajar dan sasaran yang hendak dicapai.
3. Mengenali bakat dan minat.
4. Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
5. Catatlah keberhasilan belajar yang telah kamu capai sebagai alat pemacu keberhasilan selanjutnya.
6. Mintalah pertimbangan pada guru, teman, atau seseorang yang dirasa memiliki kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan belajar.
7. Melengkapi sarana belajar.
8. Memelihara kondisi kesehatan, hindari makanan yang beresiko merusak otak.
9. Mengatur waktu belajar di sekolah maupun di rumah.
10. Membuat rangkuman, skema dan catatan bagi pelajaran yang dianggap penting atau sulit.
11. Ciptakan hubungan harmonis dengan guru, teman, maupun keluarga agar tidak membebani pikiran dan perasaan.
12. Bergaullah dengan orang-orang yang mendukung keberhasilan belajar.
1. Salah satu upaya untuk mengatasi kesulitan belajar adalah dengan meningkatkan motivasi belajar.
2. Memiliki tujuan belajar dan sasaran yang hendak dicapai.
3. Mengenali bakat dan minat.
4. Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
5. Catatlah keberhasilan belajar yang telah kamu capai sebagai alat pemacu keberhasilan selanjutnya.
6. Mintalah pertimbangan pada guru, teman, atau seseorang yang dirasa memiliki kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan belajar.
7. Melengkapi sarana belajar.
8. Memelihara kondisi kesehatan, hindari makanan yang beresiko merusak otak.
9. Mengatur waktu belajar di sekolah maupun di rumah.
10. Membuat rangkuman, skema dan catatan bagi pelajaran yang dianggap penting atau sulit.
11. Ciptakan hubungan harmonis dengan guru, teman, maupun keluarga agar tidak membebani pikiran dan perasaan.
12. Bergaullah dengan orang-orang yang mendukung keberhasilan belajar.
Karakteristik
guru
1.FLEKSIBILITAS KOGNITIP GURU.
Fleksibilitas kognitif ( keluwesan ranah
cipta ) merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara
simultan dan memadai dalam situasi tertentu.Kebalikanya adalah frgiditas
kognitif atau kekakuan ranah cipta yang ditandai dengan kekurang mampuan
berpikir dan bertindak yang sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.Guru
yang fleksibel pada umunya di tandai dengan keterbukaan berpikir dan
beradaptasi.Selain itu ia juga mempunyai resistensi (daya tahan ) terhadap
ketertutupan ranah cipta yang prematur dalam pengamatan dan pengenalan.Ketika
mengamati dan mengenali suatu objek atau situasi tertentu seorang guru yang
fleksibel selalu berpikir kritis.Berpikir kritis adalah berpikir dengan penuh
pertimbangan akal sehat yang di pusatkan pada pengambilan keputusan untuk
mempercayai atau mengingkari sesuatu,dan melakukan atau menghindari sesuatu
(Heger & Kaye,1990).
2.Keterbukaan Psikologis pribadi guru.
Hal lain yang menjadi paktor menentukan
keberhasilan tugas guru adalah keterbukaan psikologs guru itu sendiri.Guru yang
terbuka secara psikologi akan di tandai dengan kesediaanya yang relatip tinggi
untuk mengkomunikasikan dirinya dengan faktor-faktor ekstern antar lain
siswa,teman sejawat,dan lingkungan pendidikan tempatnya bekerja.Ia mau menerima
kritik dengan ikhlas.Disamping itu ia juga memiliki emphati,yakni respon
afektip terhadap pengalaman emosionalnya dan perasaan tertentu orang lain
.(Reber,1988).Contohnya jika seorang muridnya di ketahui sedang mengalami
kemalangan,maka ia turut bersedih dan menunjukan simpati serta berusaha memberi
jalan keluar.
Keterbuksaan psikologis sangat penting
bagi guru mengingat posisinya sebagai anutan siswa..Keterbukaan psikologis
merupakan prakondisi atau prasyarat penting yang perlu dimiliki guru untuk
memahami pikiran dan perasaan orang lain.Keterbukaan psikologis juga di
perlukan untuk menciptakan suasana hubungan antar pribadi guru dan siswa yang
harmonis,sehingga mendorong siswa untuk mengembangkan dirinya secara bebas dan
tanpa ganjalan.
Evaluasi
Tujuan
evaluasi dapat dilihat dari dua segi, tujuan umum dan tujuan khusus. L.
Pasaribu dan Simanjuntak, menegaskan bahwa :
1.
Tujuan
umum dari evaluasi adalah sebagai berikut :
a.
Mengumpulkan
data-data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam mencapai tujuan yang
diharapkan.
b.
Memungkinkan
pendidik/guru menilai aktivitas/pengalaman yang didapat.
c.
Menilai
metode belajar yang dipergunakan
2.
Tujuan
Khusus dari evaluasi adalah sebagai
berikut :
a. Merangsang kegiatan siswa
b. Menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan.
c. Memperbaiki mutu pelajaran/cara
belajar atau metode belajar.
d. Memberikan bimbingan yang sesuai
dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan.
e. Memperoleh bahwa laporan
tentang perkembangan siswa yang diperlukan oreang tua dan lembaga pendidikan.
Selanjutnya dilihat dari segi pelaksanaanya evaluasi mempunyai tiga prinsip
pokok, yaitu :
a.Prinsip Keseluruhan
b.Prinsip Kontinuitas
c.Prinsip Objektivitas.